Media Penelitian

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang penting ialah membuat desain penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas. Desain penelitian adalah rencana atau strategi yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian (menguji hipotesis) dan mengontrol variabel sekunder.
Kesalahan yang mungkin terjadi dalam pembuatan desain penelitian meliputi a)kesalahan dalam perencanaan, b)kesalahan dalam pengumpulan data, c) kesalahan dalam melakukan analisis, dan d) kesalahan dalam pelaporan.
Kesalahan dalam perencanaan dapat terjadi saat peneliti membuat kesalahan dalam menyusun desain yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi. Kesalahan ini dapat terjadi pula bila peneliti salah dalam merumuskan masalah. Kesalahan dalam merumuskan masalah akan menghasilkan informasi yang tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang diteliti. Cara mengatasi kesalahan ini ialah mengembangkan proposal yang baik dan benar yang secara jelas menspesifikasikan metode dan nilai tambah penelitian yang akan dijalankan.
Kesalahan dalam pengumpulan data terjadi pada saat peneliti melakukan kesalahan dalam proses pengumpulan data di lapangan. Kesalahan ini dapat memperbesar tingkat kesalahan yang sudah terjadi dikarenakan perencanaan yang tidak matang. Untuk menghindari hal tersebut data yang dikoleksi harus merupakan representasi dari populasi yang sedang diteliti dan metode pengumpulan datanya harus dapat menghasilkan data yang akurat. Cara mengatasi kesalahan ini ialah kehati-hatian dan ketepatan dalam menjalankan desain penelitian yang sudah dirancang dalam proposal.
Kesalahan dalam melakukan analisis dapat terjadi pada saat peneliti salah dalam memilih cara menganalisis data. Selanjutnya, kesalahan ini disebabkan pula adanya kesalahan dalam memilih teknik analisis yang sesuai dengan masalah dan data yang tersedia. Cara mengatasi masalah ini ialah buatlah justifikasi prosedur analisis yang digunakan untuk menyimpulkan dan memanipulasi data.
Kesalahan dalam pelaporan terjadi jika peneliti membuat kesalahan dalam menginterprestasikan hasil-hasil penelitian. Kesalahan seperti ini terjadi pada saat memberikan makna hubungan-hubungan dan angka-angka yang diidentifikasi dari tahap analisis data. Cara mengatasi kesalahan ini ialah hasil analisis data diperiksa oleh orang-orang yang benar-benar ahli dan menguasai masalah hasil penelitian tersebut.

Rumusan Masalah

  • Apakah yang dimaksud dengan desain penelitian?
  • Apakah tujuan dari desain penelitian?
  • Apakah perbedaan desain metode penelitian positivistik dan metode penelitian naturalistik?
  • Apakah perbedaan dari desain penelitian kuantitatif dengan kualitatif?

Tujuan Penelitian

  • Tujuan umum

Penulisan ini bertujuan untuk dapat mendesain penelitian kuantitatif dan kualitatif.

  • Tujuan khusus

Mendeskripsikan pengertian desain penelitian.
Menjelaskan tujuan dari desain penelitian ditinjau dari hasil yang akan dicapai dalam penelitian.
Mendeskripsikan perbedaan desain metode penelitian positivistik dan metode penelitian naturalistik ditinjau dari perbedaan dalam analisis data yang dipergunakan.
Mendeskripsikan perbedaan dari desain penelitian kuantitatif dengan kualitatif ditinjau dari cara mendesain penelitian kuantitatif dengan kualitatif.

Manfaat

  • Manfaat teoritis

Hasil penulisan ini diharapkan bermanfaat mengembangkan prinsip-prinsip mengenai cara mendesain sebuah penelitian kuantitatif ataupun kualitatif.

  • Manfaat praktis

Hasil penulisan ini dapat dimanfaatkan oleh sekolah ditingkat universitas maupun dosen. Universitas dapat memanfaatkan penulisan ini untuk mengembangkan kreatifitas dosen atau calon dosen dalam mendesain sebuah penelitian. Para dosen dapat memanfaatkan penulisan ini untuk membantu dalam menjelaskan mata kuliah yang berhubungan dengan peneltian. Mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan tentang desain penelitian kuantitatif dengan kualitatif.

KAJIAN TEORI

Pengertian Desain Penelitian
Desain artinya rencana, tetapi apabila dikaji lebih lanjut kata itu dapat berarti pula pola, potongan, bentuk, model, tujuan dan maksud (Echols dan Hassan Shadily, 1976:177). Desain penelitian merupakan perencanaan dan struktur investigasi yang didapatkan untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Rencana tersebut merupakan skema keseluruhan atau program dari penelitian. Desain penelitian meliputi garis besar apa yang akan dilakukan investigator dari hipotesis tertulis dan implikasi operasionalnya sampai analisis akhir data. Sebuah struktur merupakan kerangka kerja, organisasi, atau konfigurasi dari hubungan diantara variabel suatu studi. Suatu desain penelitian mengekspresikan struktur permasalahan penelitian dan rencana investigasi yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris berkaitan dengan permasalahan tersebut.
Tujuan Desain Penelitian
Tujuan desain penelitian yang baik adalah memberikan hasil dapat dipercaya, kredibilitas mengacu pada seberapa luas hasilnya mendekati realitas dan dipertimbangkan sebagai sesuatu yang dapat dipecaya dan masuk akal. Kredibilitas menjadi lebih kuat jika desain penelitian mempertimbangkan sumber-sumber bias potensial yang dapat mengubah temuan. Bias adalah suatu bentuk salah sistematik (systematic error), suatu faktor yang mempengaruhi hasil dan merusak mutu penelitian.
Perbedaan Desain Metode Penelitian Positivistik dan Metode Penelitian Naturalistik

Banyak ahli metodologi penelitian mempertentangkan metodologi penelitian positivistik dari metodologi penelitian naturalistik dengan alasan yang berbeda-beda. Jika metodologi penelitian positivistik bekerja dengan analisis data yang mengikuti metode deduktif, maka metodologi penelitian naturalistik bekerja dengan metode induktif. Analisis data induktif yang mempergunakan paradigma naturalistik adalah analisis terhadap data dari lapangan yang empiris, individual, dan spesifik yang selanjutnya dilakukan kategorisasi. Jika metodologi positivistik (terutama metodologi rasionalistik) merupakan metodologi yang bebas nilai (value free, wart frei), maka metodologi kualitatif (khususnya metodologi naturalistik) yang memanfaatkan analisis induktif tersebut, sesungguhnya tidak juga berangkat dengan “otak yang hampa” (empty headed), tetapi dengan “jiwa terbuka” (open minded).
Berbeda dengan metodologi kualitatif-naturalistik, konsep eksplanasi yang mengikuti metodologi positivistik akan berada disekitar pemikiran bahwa seluruh perisitiwa sosial merupakan suatu wilayah yang tidak keluar dari wilayah hubungan sebab-akibat (kausal verband). Anggapan tersebut ditolak oleh paradigma kualitatif, anggapan yang mengatakan bahwa manusia mampu menghasilkan akibat dengan cara mengantisipasi sebab. Dengan demikian maka unsur ekspektasi memegang peranan penting yang lebih kuat daripada berpikir determinatif yang mengikuti hukum-hukum kausal. Jika metodologi positivistik menyusun kausalitas dengan cara linier, maka metodologi fenomenologis menganggap kausalitas bekerja tidak hanya linier tetapi juga timbal-balik(inter dependen) dan ideterminatif. Munculnya hubungan kausalitas yang timbal-balik menyebabkan hubungan linier tidak terjadi. Namun yang terjadi adalah hubungan yang saling berperan dan sederajat (dalam arti bukan hanya berperan sebagai sebab atau akibat belaka, namun terbuka pula peranan yang sebaliknya).
Pengaruh positivisme terhadap metodologi penelitian secara khusus tampak dari keharusan penelitian itu untuk bersikap bebas nilai. Penelitian itu harus menarik garis yang tegas dengan objek kajiannya, karena metode penelitian positivistik harus menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subjektif. Artinya, segala sesuatu yang pribadi yang tidak berlaku universal-kosmopolitan. Sedangkan penelitian fenomonologi khususnya penelitian naturalistik beranggapan bahwa sejauh apapun yang dilakukan manusia (peneliti) untuk bersikap objektif, ia akan tetap terlibat dengan kepentingan dan harapan yang akan memberinya bumbu warna yang sukar untuk disterilkan. Ia tetap tidak akan bebas nilai, nilai itu akan inklusif dalam diri manusia.

Perbedaan Desain Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif
Desain penelitian kualitatif pada umumnya tidak mengemukakan hipoteses yang harus dites, tetapi lebih sering berupa pertanyaan penelitian yang lebih mengarahkan pada ketercapaian pegumpulan data secara langsung. Desain penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisis dan formula statistik yang akan digunakan.

ISI

Pengertian Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan cetak biru untuk pengumpulan , pengukuran, dan analisis data. Desain ini membantu peneliti dalam mengalokasikan sumbernya yang terbatas dengan mengajukan pilihan-pilihan penting. Apakah cetak biru meliputi eksperimen, wawancara, observasi, analisis catatan, simulasi, atau beberapa kombinasi dari hal-hal berikut :
Apakah metode pengumpulan data dan situasi penelitian harus benar-benar tersusun?
Apakah suatu studi intensif dari sampel kecil lebih efektif daripada studi yang kurang intensif dari sampel yang banyak?
Haruskah analisis pada pokoknya adalah kuantitatif atau kualitatif?

Ada sejumlah pendekatan desain yang berbeda namun tidak ada sistem klasifikasi yang sederhana yang menentukan semua variasi yang harus dipertimbangkan. Desain penelitian merupakan konsep kompleks yang dapat dipandang dari paling tidak delapan perspektif berbeda.
Tingkatan dimana permasalahan penelitian telah dikristalkan (studi tersebut mungkin bisa eksploratori atau formal).
Metode pengumpulan data ( studi bisa observasional atau survei ).
Kekuatan peneliti untuk mempengaruhi variabel di bawah studi ( dua jenis penelitian adalah eksperimental dan “ex post facto” ).
Tujuan studi ( studi penelitian bisa deskriptif atau kausal ).
Dimensi waktu ( penelitian bisa cros-seksional atau longitudinal ).
Lingkup topik keluasan dan kedalaman studi ( studi kasus atau statistik ).
Lingkungan penelitian ( kebanyakan penelitian bisnis dilakukan di lapangan, meskipun penelitian laboratorium bukannya tidak biasa, simulasi merupakan kategori lain ).
Persepsi subyek mengenai penelitian ( apakah mereka menerima penyimpangan dari rutinitas mereka sehari-hari ).

Tujuan Desain Penelitian
Penelitian yang dibimbing oleh keinginan untuk memperoleh pengetahuan atau untuk memecahkan masalah akan membuat desain (rancangan) penelitian. Penyelesaian dari desain penelitian dalam kenyataannya merupakan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan hal-hal berikut :

Kajian dan jenis data apakah yang peneliti butuhkan?
Apakah sebabnya peneliti melakukan kajian ini?
Dimanakah data dapat peneliti temukan?
Di manakah, atau di wilayah apakah, kajian itu akan dilakukan?
Berapa lama, atau pada periode waktu kapankah, kajian itu akan dilakukan?
Berapa banyakkah bahan atau berapa kasuskah akan peneliti butuhkan?
Dasar pemilihan apakah yang peneliti gunakan ?
Teknik penghimpunan data apakah yang akan peneliti pergunakan?
Pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rancangan kajian yang perlu peneliti pertimbangkan dalam pembuatan keputusan akan berkaitan dengan apa, dimana, kapan, berapa, dan dengan alat apa. Jika perkembangan lebih jauh, rancangan penelitian itu sedikitnya akan mencakup hal-hal berikut ini :
Sumber informasi yang harus dijaring
Sifat atau hakikat kaijian
Tujuan kajian
Konteks kajian dengan masalah-masalah lain
Wilayah geografis yang akan diliput oleh kajian
Periode waktu sebagai pedoman
Dimensi-dimensi kajian
Dasar pemilihan data, dan
Teknik yang digunakan dalam penghimpunan data

Desain Metode Penelitian Positivistik dan Metode Penelitian Naturalistik
Banyak ahli metodologi penelitian mempertentangkan metodologi penelitian positivistik dari metodologi penelitian naturalistik dengan alasan yang berbeda-beda. Jika metodologi penelitian positivistik bekerja dengan analisis data yang mengikuti metode deduktif, maka metodologi penelitian naturalistik bekerja dengan metode induktif. Analisis data induktif yang mempergunakan paradigma naturalistik adalah analisis terhadap data dari lapangan yang empiris, individual, dan spesifik yang selanjutnya dilakukan kategorisasi. Jika metodologi positivistik (terutama metodologi rasionalistik) merupakan metodologi yang bebas nilai (value free, wart frei), maka metodologi kualitatif (khususnya metodologi naturalistik) yang memanfaatkan analisis induktif tersebut, sesungguhnya tidak juga berangkat dengan “otak yang hampa” (empty headed), tetapi dengan “jiwa terbuka” (open minded).

Berbeda dengan metodologi kualitatif-naturalistik, konsep eksplanasi yang mengikuti metodologi positivistik akan berada disekitar pemikiran bahwa seluruh perisitiwa sosial merupakan suatu wilayah yang tidak keluar dari wilayah hubungan sebab-akibat (kausal verband). Anggapan tersebut ditolak oleh paradigma kualitatif, anggapan yang mengatakan bahwa manusia mampu menghasilkan akibat dengan cara mengantisipasi sebab. Dengan demikian maka unsur ekspektasi memegang peranan penting yang lebih kuat daripada berpikir determinatif yang mengikuti hukum-hukum kausal.

Jika metodologi positivistik menyusun kausalitas dengan cara linier, maka metodologi fenomenologis menganggap kausalitas bekerja tidak hanya linier tetapi juga timbal-balik(inter dependen) dan ideterminatif. Munculnya hubungan kausalitas yang timbal-balik menyebabkan hubungan linier tidak terjadi. Namun yang terjadi adalah hubungan yang saling berperan dan sederajat (dalam arti bukan hanya berperan sebagai sebab atau akibat belaka, namun terbuka pula peranan yang sebaliknya).

Pengaruh positivisme terhadap metodologi penelitian secara khusus tampak dari keharusan penelitian itu untuk bersikap bebas nilai. Penelitian itu harus menarik garis yang tegas dengan objek kajiannya, karena metode penelitian positivistik harus menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subjektif. Artinya, segala sesuatu yang pribadi yang tidak berlaku universal-kosmopolitan. Sedangkan penelitian fenomonologi khususnya penelitian naturalistik beranggapan bahwa sejauh apapun yang dilakukan manusia (peneliti) untuk bersikap objektif, ia akan tetap terlibat dengan kepentingan dan harapan yang akan memberinya bumbu warna yang sukar untuk disterilkan. Ia tetap tidak akan bebas nilai, nilai itu akan inklusif dalam diri manusia.

Desain Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif
Desain Penelitian Kuantitatif
Prosedur baku penelitian kuantitatif
Langkah pertama : Muncul dan tumbuhnya minat peneliti terhadap masalah.
Dalam langkah ini peneliti tertarik dan termotivasi untuk mempelajari dan meneliti masalah tertentu. Pada awalnya masalah itu mungkin masih bersifat umum serta masih campur-aduk.
Pada langkah ini peneliti biasanya melakukan dua hal yaitu menetapkan audiens dan menelusuri kepustakaan yang relevan.
Langkah kedua : perumusan masalah.
Masalah yang masih berupa masalah utama kemudian diuraikan dan dirinci kedalam sejumlah submasalah. Masalah dan sub masalah itu acapkali menghasilkan hipotesis utama yang lebih lanjut dijabarkan ke dalam sub-sub hipotesis.
Langkah ketiga : memilih metode penelitian.
Peneliti harus dapat memilih dan menentukan metode mana yang tepat sehingga sesuai dengan masalah yang akan dipecahkannya. Metode yang digunakan ini harus sah (valid).
Langkah keempat : menentukan populasi dan menetapkan sampel.
Sebelum melakukan penelitian dilapangan peneliti harus menentukan populasi dan sampel representatif mana yang terpilih dan dipergunakan dalam penelitiannya.
Langkah kelima : mengembangkan instrumen penelitian.
Setelah mengetahui tujuan, masalah, populasi, dan sampel penelitian yang tepat, peneliti siap untuk mengembangkan instrumen penelitian yang memilki validitas konstruk.
Langkah keenam : memasuki lapangan penelitian
Apabila ujicoba, evaluasi, dan penyempurnaan instrumen telah memuaskan maka peneliti kemudian terjun ke lapangan penelitian dan mulai menghimpun data yang diperlukan.
Langkah terakhir : menyusun laporan.
Penyusunan laporan biasanya mengikuti format baku yang sangat lazim untuk penelitian kuantitatif. Dalam tahapan ini peneliti perlu meninjau ulang seluruh proses dan temuan penelitian.
Teknik untuk Mengurangi Kesalahan
Mendesain penelitian kuantitatif penting untuk mempertimbangkan siapakah yang akan dinilai (subjek), dengan apa mereka akan dinilai (instrumen), bagaimana cara mereka akan dinilai (prosedur untuk penghimpunan data). Beberapa teknik untuk mengurangi kesalahan (error) dalam penelitian kuantitatif yaitu : randomisasi subjek, mempertahankan kondisi-kondisi konstan, membangun kondisi-kondisi kedalam desain sebagai variabel-variabel indepenen, dan membuat penyesuaian statistik. Perlu mendapat tekanan kuat, bahwa dalam kajian kuantitatif, kontrol terhadap variabel asing (extraneous variables) merupakan sesuatu yang esensial. Peneliti harus terus menerus memeriksa faktor-faktor (variabel-variabel asing) yang dapat mempengaruhi hasil atau kondisi kajian. Oleh sebab itu, segala variabel asing harus diasingkan.
Desain penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif sama seperti kajian kuantitatif yang membutuhkan rencana untuk memilih situs dan partisipan dan untuk menghimpun data. Rencana penelitian kualitatif tidak seperti penelitian kuantitatif , mengacu pada “desain darurat” (emergent design) atau “desain percobaan” (tentative design). Dalam desain tersebut, setiap penambahan keputusan penelitian tergantung pada informasi sebelumnya. Desain darurat, dalam kenyataannya tampak “beredar” atau “berputar” (circular), karena proses sampling yang bertujuan (purposeful sampling), penghimpunan data, dan analisis data parsial dilakukan simultan dan interaktif, bukan langkah-langkah berurutan yang berlainan. Peneliti kualitatif sama berkepentingan terhadap validitas desain seperti penelitian kuantitatif, tetapi metode yang digunakan untuk membangun validitas intern dan validitas eksternnya (jauh) berbeda.

PEMBAHASAN HASIL REVIEW

Pengertian Desain Penelitian
Desain Penelitian menurut William M.K. Trochim (2006) “Research design can be thought of as the structure of research — it is the “glue” that holds all of the elements in a research project together.” Sedangkan Lincoln dan Guba (1985:226) mendefinisikan rancangan penelitian sebagai usaha merencanakan kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan secara pasti apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsur masing-masing.
Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999:102) adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.
Definisi ini berbeda secara terinci, namun secara bersama-sama memberikan esensi desain penelitian yang baik. Pertama, desain tersebut merupakan rencana untuk memilih sumber dan jenis informasi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Kedua, desain ini merupakan kerangka kerja untuk menentukan hubungan diantara variabel studi. Ketiga, desain ini merupakan cetak biru untuk membuat garis besar semua prosedur dari hipotesis sampai analisis data.

Tujuan Desain Penelitian
Desain penelitian (research design) adalah istilah yang mengacu pada suatu rencana untuk memilih subjek, situs penelitian, dan prosedur penghimpunan data untuk menjawab pertanyaan penelitian. Desain menunjukkan individu-individu mana yang akan dikaji, kapan, dimana, dan dalam lingkungan apa mereka akan dikaji.
Tujuan desain penelitian yang baik adalah memberikan hasil dapat dipercaya, kredibilitas mengacu pada seberapa luas hasilnya mendekati realitas dan dipertimbangkan sebagai sesuatu yang dapat dipecaya dan masuk akal. Kredibilitas menjadi lebih kuat jika desain penelitian mempertimbangkan sumber-sumber bias potensial yang dapat mengubah temuan. Bias adalah suatu bentuk salah sistematik (systematic error), suatu faktor yang mempengaruhi hasil dan merusak mutu penelitian.
Desain Metode Penelitian Positivistik dan Metode Penelitian Naturalistik
Desain metode positivistik
Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

Desain metode naturalistik
Naturalistik pada umumnya bersifat terbuka dan mampu mengakomodasi adanya beberapa kemungkinan perubahan. Jumlah variabel yang tidak terbatas menjadikan desain penelitian fleksibel melalui langkah-langkah yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
Desain Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif

Desain Penelitian Kuantitatif
Desain penelitian kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing dan pemahaman dari luar (outward). Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan penelitian ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesis dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisis dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, penelitian ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.

Desain Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif, bacaan yang luas dan up to date merupakan syarat mutlak yang perlu dilakukan oleh seorang peneliti guna mendalami teori yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu agar memperoleh desain penelitian yang baik, para peneliti hendaknya perlu memperhatikan beberapa butir penting seperti berikut yaitu : a) peneliti hendaknya menaruh minat terhadap tema atau topik yang pada umumnya masih bersifat umum, b) Masalah diidentifikasi, dan dianalisis untuk menarik pertanyaan pokok atau yang berkaitan dengan fokus permasalahan, c) Peneliti sejak awal hendaknya juga sudah mengetahui key persons yaitu orang-orang yang mempunyai informasi, dan audience yaitu orang-orang atau lembaga yang dapat menggunakan hasil-hasil penelitian, d) Peneliti hendaknya mengetahui metode yang hendak digunakan agar dapat memilih metode yang sesuai dan dapat memecahkan masalah.

Desain penelitian kualitatif pada umumnya masih memiliki tiga karakteristik seperti berikut. a) tidak dinyatakan secara detail, b) bersifat fleksibel, c) berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan.

Unsur-unsur penting dalam desain Penelitian kualitatif
Menentukan fokus penelitian.
Menentukan paradigma penelitian yang sesuai dengan keadaan lapangan.
Menentukan kesesuaian antara paradigma dengan teori yang dikembangkan sehingga peneliti tetap yakin terhdapa kebenarannya karena teori yang dibangun masih saling berkaitan erat dengan paradigma yang dikembangkan.
Menentukan sumberdata yang dapat digali dari masyarakat yang diteliti
Menentukan tahap-tahap penelitian.
Mengembangkan instrumen penelitian.
Merencanakan pengumpulan data dan pencatatannya, termasuk didalamnya garis besar teknik pengumpulan data yang dipilih agar memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan
Rencana analisis data
Rencana mencapai tingkat kepercayaan dan kebenaran penelitian
Merencanakan lokasi dan tempat penelitian
Menghormati etika penelitian
Mempersiapkan laporan penulisan dan penyelesaian penelitian
Dalam menyusun desain penelitian kualitatif, para peneliti hendaknya perlu memperhatikan empat belas butir prinsip yang berkaitan dengan desain penelitian kualitatif seperti berikut :
Desain penelitian kualitatif pada umumnya merupakan desain penelitian yang tidak terinci, fleksibel, timbul dan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Hal-hal yang memungkinkan desain penelitian berubah biasanya termasuk: tujuan, subyek, sampel penelitian jika ada, dan sumber data.
Lebih bersifat restrospektif yaitu, desain penelitian diketahui secara pasti setelah penelitian selesai. Walaupun misalnya para peneliti mendesain penelitian dibantu dosen pembimbing, hasil penelitian masih bersifata sementara atau adhoc dan masih mungkin berubah sesuai dengan kondisi di lapangan.
Desain biasanya tidak mengemukan hipoteses yang perlu di tes, tetapi lebih berupa fokus penelitian yang penekannya sebagai guide atau petunjuk dalam mencari atau mengumpulkan data.
Hasil penelitian lebih bersifat terbuka dan tidak membatasi phenomena ke dalam variabel seperti dalam penelitian kuantitatif positivist.
Desain penelitian lebih fleksibel dengan langkah-langkah yang tidak dapat dipastikan, disamping juga hasil penelitian tidak dapat diprediksi atau diramalkan.
Peneliti melakukan analisis data sejak awal penelitian, bersamaan dengan proses pengumpulan data, bersifat terbuka, open endded dan dilakukan secara induktif.
Penggunaan populasi posisinya tidak terlalu perlu. Sampling dapat ditafsirkan sebagai pilihan peneliti terhadap beberapa faktor terkait termasuk: aspek apa dari peritiwa apa, dan siapa ataua apa yang dijadikan fokus dalam penelitian.
Sampling lebih cederung menggunakan prinsip non probability sampling (Kerlinger: 1986), yang didalamnya dibedakan menjadi empat macam yaitu a) purposive, b) accidental, c) quota dan d) snow-ball sampling. Penelitian ini disebut sebgai non probabilitas karena lebih banyak tergantung dari pada pilihan peneliti dan juga tujuan penelitian.
Instrumen penelitian kualitatif pada umumnya lebih bersifat internal dan subyektif, yang direfleksikan dengan “peneliti sebagai instrumen”. Disamping itu, instrumen penelitian kualitatif mendasarkan pada aspek-aspek seperti berikut termasuk: bersifat khusus, dan berulangkali terjadi, yang berupa paradigma atau thema yang memberikan petunjuk ke arah pembentukan teori.
Analisis data lebih bersifat terbuka terhadap perubahan, perbaikan dan penyempurnaan atas dasar data baru yang masuk atau diterima peneliti.
Hipoteses tidak dapat dirumuskan pada awal penelitian, karena pada penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk menguji kebenaran. Hipoteses atau jawaban sementara dalam penelitian kualitatif muncul sepanjang proses penelitian sebagai pedoman dalam menafsirkan dan memaknai data.
Statistik tidak terlalu diperlukan dalam pengolahan data dan penafsiran data. Dalam penelitian kualitatif, menganalisis data berarti mencoba memahami makna data secara Verstehin dengan lebih mengutamakan makna yang berasal dari phenomena yang saling berkaitan satu sama lain.
Lama penelitian tidak dapat ditentukan sebelumya oleh si peneliti. Pada hakekatnya penelitian kualitatif dapat terus berlangsung sampai pada suatu saat peneliti sudah tidak memperoleh data baru atau telah terjadi pengulangan phenomena, berarti penelitian baru dapat diperbolehkan berhenti.
Dalam penelitian kualitatif-naturalistik selalu terjadi kemungkinan peneliti menemukan hal baru (invention) disamping juga penemuan kembali hal-hal tertentu yang sebenarnya dahulu sudah ada atau discovery.

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

SIMPULAN

Desain penelitian merupakan bagian dari perencanaan penelitian yang menunjukkan usaha peneliti dalam melihat apakah penelitian yang direncanakan telah memiliki validitas internal dan eksternal yang komprehensif.
Tujuan desain penelitian yang baik adalah memberikan hasil dapat dipercaya, kredibilitas mengacu pada seberapa luas hasilnya mendekati realitas dan dipertimbangkan sebagai sesuatu yang dapat dipecaya dan masuk akal. Kredibilitas menjadi lebih kuat jika desain penelitian mempertimbangkan sumber-sumber bias potensial yang dapat mengubah temuan. Bias adalah suatu bentuk salah sistematik (systematic error), suatu faktor yang mempengaruhi hasil dan merusak mutu penelitian.
Metode penelitian positivistik harus menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subjektif. Artinya, segala sesuatu yang pribadi, yang tidak berlaku universal-kosmopolitan. Metode penelitian naturalistik adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) .
Desain penelitian kualitatif pada umumnya masih memiliki tiga karakteristik seperti berikut. a) tidak dinyatakan secara detail, b) bersifat fleksibel, c) berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di lapangan.
Mendesain penelitian kuantitatif penting untuk mempertimbangkan siapakah yang akan dinilai (subjek), dengan apa mereka akan dinilai (instrumen), bagaimana cara mereka akan dinilai (prosedur untuk penghimpunan data).

IMPLIKASI
Peneliti yang memahami pengertian desain penelitian maka menguasai pengertian tentang desain penelitian
Peneliti yang memulai penelitiannya tanpa ada suatu rencana penelitian tertentu maka peneliti akan menghadapi banyak kendala.
Peneliti yang membuat keputusan sebelum memulai penelitiannya akan meminimalkan masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pelaksanaan penelitian

SARAN
Kepada para pembaca yang budiman, didalam makalah ini masih banyak sekali kekurangan. Penulis mengharapkankan kritik yang membanggun.
Kepada peneliti berikutnya, supaya dapat meminimalkan masalah yang mungkin muncul dengan mengambil beberapa pertimbangan supaya tidak terdapat banyak kendala dalam pelaksanaan penelitian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s